TUGAS 6 PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS
PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
A. Pengertian Pendekatan
Manajemen Kelas
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang dalam dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan
unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan .Sebagai
pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan
pendekatan-pendekatan kelas, sebab didalam penggunaannya ia harus terlebih
dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani sesuatu
kasus pengelolan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat
masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa
penggunaan sesuatu Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan
bahwa penggunaan sesuatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang
ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru
akan berhasil baik setiap kali menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknnya,
keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila
alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang
diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk
kemudian tiba pada alternatif pendekat yang kedua dan seterusnya
Menurut Suharsimi
Arikunto(dalam mudasir,2011) Pengelolaan Kelas dan Siswa, menyebutkan bahwa
manajemen kelas adalah usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan
kondisi belajar yang optimal
Jadi dapat disimpulkan
bahwa pendekatan manjemen kelas merupakan suatu cara yang dilakukan oleh seorang guru dalam managemen
kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah
laku siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan.
Keharmonisan hubungan guru dan siswa, tingginya kerjasama di antara siswa
tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung
dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
B. Sikap Guru Terhadap
Manajemen Kelas
Guru
bersikap seperti yang dikemukakan oleh Djamarah (2010) yaitu
1. Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan
menunjukkan antusias pada tugasnya,
2. Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang
menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar,
3. Bervariasi dalam penggunaan
alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa,
4. Guru luwes untuk mengubah strategi mengajarnya,
5. Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari
pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan
6. Guru harus disiplin dalam segala hal.
C. Peran Guru Sekolah Dasar dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai
pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin
kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas
merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut
Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat
dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif
sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat
menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat
terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta
pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.
Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang
tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif.
Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi
kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan,
penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas
secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi
siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai
pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan
sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru
sedang murid hanya pasif menerima.
a.
Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri dari
siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat
dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama
atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa
Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke
kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu
Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep
ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b.
Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan
dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi
berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.
Kelas awal
Pembelajaran dengan
pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap
pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan
mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila
dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata
pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh
sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami
2.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas
sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah
diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk
dapat berbentuk :
a.
Seating chart, Penempatan murid
dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat
diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru,
sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat
duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau
sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk
secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya.
b.
Melingkar, Model duduk seperti
ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada
modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c.
Tapal kuda Model ini sesuai
untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi
yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding
keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3.
Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat
klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya;
alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat
pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik,
papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable)
yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin,
peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan
tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga,
buku.
Alat-alat pelajaran
tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam
kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4.
Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan
“bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat
dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat
keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak
betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk
betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru
memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya
menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
a.
menata ruangan menjadi rapi,
menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal
buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan
ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam
dalam suasana akademik (Immersion).
b.
penataan meja guru,
gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an
indah.
D. Macam-Macam Pendekatan
Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri,
tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor
utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa
baik secara berkelompok maupun secara individu. Lahirnya interaksi yang optimal
bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Syaiful Bahri Djamarah menyebutkan ada berbagai pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan kekuasaan
Pengelolan kelas diartikan sebgai suatu proses
untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disisni adalah
menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalm kelas. Kedisiplina adalah
kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada
kekuasaan dan norma yng mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan
dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
2. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini,
pengelolaan adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak
didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilkukan dengan cara
memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan dirtikn secara suatu proses untuk
membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan suatu kapan aja dan
dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak
didik.
4. Pendekatan Resep
Pendekatan resep ini dilakukan dengan memberi satu
daftar yang dapatt menggambarkan apa yang harus dan apa yang harus tidak boleh
dikrjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi
dikelas.
5. Pendekatan
pengajaran
Pendekatan ini didasarkan suatu anggapan bahwa
dalam suatu perencanaan dan pelaksaan akan mencegah munculnya masalah tingkah
laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan
ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan
menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah
merencanakan an mengimplementasikan pelajaran yang baik.[2]
6. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan terapai secara
mksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembabng di dalam kelas.
Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar
siswa. Di dalam ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.
7. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini peran guru adalah mendorong
perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolan kelas dengan proses kelompok
memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan
kelompok menjadi kelompok produktif, dan selain itu guru harus pula dapat
menjaga kondisi kelas agar tetap baik.
8. Pendekatan iklim
sosio-emosional
Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa
pengelolaan kelas yang efektif memerlukan hubungan positif dengan antara guru
dan siswa serta siswa dengan siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional akan
tercapai secr maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di
dalam kelas.
9. Pendekatan Proses
Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong
perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok
memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, selain itu guru juga
harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas
tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi
konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
10. Pendekatan Elektris atau
Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini
menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas
dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang
dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan
salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dua atau
ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan
pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam
pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan
suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan
efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai
dengan kemampuan, selama maksud dan penggunaannya untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar
berjalan secara efektif dan efisien.
Daftar
Rujukan
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain,
Aswan. 2010. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta:
Zanafa Publishing.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSangat bermanfaat kak, smoga bisa di terapkan nantinya
ReplyDeleteTerima kasih atas materi yang diberikan ukhti🙏😇
ReplyDeleteTerima kasih materinya, semoga bisa diterapkan.
ReplyDeleteSangat membantu
ReplyDeleteTerimalah. ..materi ini sangat bermanfaat. .
ReplyDeleteTerimalah. ..materi ini sangat bermanfaat. .
ReplyDeleteTerimaksih
ReplyDeleteMateri ini sungguh bermanfaat👍
Bagus sekali kak.. 👍
ReplyDeleteTrimakasih
ReplyDeleteIlmunya sangat bermanfaatt☺️
Bagus sekali kak, semoga materi ini bermanfaat untuk semua yang membaca dan mempelajari nya.
ReplyDeleteSemoga materi yang diberikan bermanfaat ya kak
ReplyDeleteTerimakasih materinya sangat bermanfaat
ReplyDeleteMakasih min
ReplyDeleteMantap
ReplyDeleteBagus (y)
ReplyDeleteMakasih kak materinya bagus
ReplyDeleteMakasih kak materinya
ReplyDeleteBagus sekali materi Ananda.
ReplyDeleteTerimakasih untuk blog nya kk iky. Sangat bermanfaat.
ReplyDeleteSangat membantu postingannya kak
ReplyDeleteBagus sekali materinya kak 👍
ReplyDeleteTrimaskih for blog nya kak. Smoga Bermanfaat. Hamasah
ReplyDeleteBagus kk
ReplyDeleteSyukron kak. Sangat beemanfaat sekali
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteTerima kasih kak materinya
ReplyDelete